Kandidiasis Vulvovaginal atau sering disebut vagina berjamur adalah infeksi vulva vagina yang disebabkan oleh jamur sel tunggal berbentuk bulat sampai oval atau disebut Candida sp. Penyakit ini seringkali dijumpai pada saat hamil dan seminggu sebelum menstruasi.

Candida sp jumlahnya sekitar 80 spesies dan 17 diantaranya di­temukan pada manusia. Dari semua spesies yang ditemukan pada manusia, C.al­bi­cans-lah yang paling pathogen. Candida sp memperbanyak diri dengan membentuk blastospora (budding cell). Blastos­pora akan saling bersambung dan ber­tam­bah panjang sehingga membentuk pseu­­dohifa. Bentuk pseudohifa lebih vi­rulen dan in­va­sif daripada spora. Hal itu dikarenakan pseudohifa berukuran lebih besar sehingga lebih sulit difagositosis oleh makrofag. Selain itu, pseudohifa mempunyai titik-titik blastokonidia multipel pada satu filamennya sehingga jumlah elemen infeksius yang ada lebih be­sar.

Faktor Resiko Kandidiasis Vulvovaginal 

Beberapa faktor predisposisi terja­di­nya KVV diantaranya adalah kehamilan (trimester ketiga), kontrasepsi, diabetes melitus, antibiotik (terutama spektrum luas seperti tetrasiklin, ampisilin, dan se­fa­losporin oral), menggunakan pakaian ke­tat dan terbuat dari nilon.

Selama kehamilan, vagina menunjuk­kan peningkatan kerentanan terhadap in­fek­si Candida sehingga prevalensi ko­lo­ni­sasi vagina dan vaginitis simtomatik me­ningkat, khusunya trimester ketiga. Di­du­ga estrogen meningkatkan perlekatan Can­dida pada sel epitel vagina dan se­ca­ra langsung meningkatkan virulensi ragi.

Timbulnya kandidiasis sering terjadi se­­lama pemakaian antibiotik oral siste­mik khususnya spektrum lebar seperti te­t­rasiklin, ampisilin, dan sefalosporin ka­rena flora bakteri vagina normal yang ber­sifat protektif seperti Lactobacillus juga tereliminasi.

Pakaian ketat ditambah dengan ce­la­na dalam nilon meningkatkan kelembab­an dan suhu di daerah perineal sehingga mempermudah tumbuh kembang jamur. C.albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas. Pertumbuhannya akan lebih baik pada pH 4,5-6,5, suhu 28-37oC.

Tanda Gejala Kandidiasis Vulvovaginal 

Tidak ada gejala dan tanda klinis yang spesifik untuk menegakkan diagnosis KVV. Namun gejala yang sering terjadi adalah ga­tal (pruritus) dan duh vagina. Karak­te­ris­tik duh vagina seperti keju lunak berwarna putih susu, mungkin bergumpal, dan tidak berbau. Rasa nyeri pada vagina, iritasi dan sensasi terbakar pada vulva, dispareuni, serta disuria juga dapat di­ke­luhkan.

Pada inspeksi, dapat dilihat labia dan vulva eritem dan membengkak disertai lesi pustulopapular diskret di bagian tepi. Melalui spekulum, serviks terlihat normal sedangkan epitel vagina tampak eritem disertai duh keputihan dan terdapat lesi satelit. Infeksi dapat menjalar ke daerah inguinal dan perianal.

Keluhan lainnya pada penderita Kandidiasis Vulvovaginal

  • Rasa gatal dan rasa panas pada vulva dan vagina.
  • Keputihan (berwarna putih seperti susu, cairan tebal dan plak warna putih yang melekat di vulva, vagina, dan serviks).
  • Sakit saat kencing (disuria)
  • Nyeri saat berhubungan intim (dispareunia)

Pengobatan Kandidiasis Vulvovaginal 

Pedoman Pelayanan Medis Depar­te­men Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyarankan penggunaan antimikotik golongan azol oral dalam mengobati kandidiasis.
Obat anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk yaitu : gel, krim, losion, tablet vagina, suppositoria dan tablet oral.

Tablet oral.: diberikan terutama untuk wanita yang belum menikah dan pada kasus Kandidiasis Vulvo vaginalis berulang.

  • Tablet Ketoconazole 200 mg (merk atau nama dagangnya banyak), diminum 2 kali sehari, sedikitnya selama 5 hari. Pada Kandidiasis Vulvo vaginalis berulang memerlukan waktu lebih lama, yakni sekitar 10-14 hari. Untuk pencegahan (profilaksis) Kandidiasis Vulvo Vaginalis Rekuren (berulang), setelah sembuh dilanjutkan dengan Ketoconazole 100 mg (1/2 tablet) per hari selama 6 bulan. Dan jika setelah 3-6 bulan gak ada lagi tanda-tanda infeksi Kandidiasis vulvovaginalis, maka obat dihentikan.
  • Itraconazole 100 mg, diminum 2 kali sehari selama 2-3 hari. Ato bisa juga 2 kali 200 mg dalam sehari setiap 8-12 jam.
  • Obat Lokal (topikal): diberikan untuk wanita menikah dan wanita hamil.
  • Nystatin (100.000 IU) vaginal supposutoria, dimasukkan ke dalam vagina (sampe masuk semua) sehari sekali selama 12-14 hari.
Pencegahan Kandidiasis Vulvovaginal 

Usaha pencegahan terhadap timbulnya kandidiasis vagina meliputi penanggulangan faktor predisposisi dan penanggulangan sumber infeksi yang ada. Penanggulangan faktor predisposisi misalnya tidak menggunakan
antibiotika atau steroid yang berlebihan, tidak menggunakan pakaian ketat, mengganti kontrasepsi pil atau AKDR dengan kontrasepsi lain yang sesuai, memperhatikan higiene. Penanggulangan sumber infeksi yaitu dengan mencari dan mengatasi sumber infeksi yang ada, baik dalam tubuhnya sendiri atau diluarnya.

*Source*



Post a comment

Name: 
Email: 
URL: 
Comments: